Persoalan : Bumi Itu Mendatar ?


Mata sebagai indra penglihatan manusia tak kunjung lepas dari ketertipuan. Apalagi alat-alat (benda-benda mati) yang dibuat oleh manusia itu sendiri.. satelit.. mikroskop.. dan lain sebagainya.. tak selamanya memberi kesimpulan yang tepat.. !!

Melalui pelbagai penelitian akurat, ilmiyah dan islami, telah dinyatakan bahwasanya bumi itu datar dan tidak bulat !! Walau mayoritas umat manusia maupun umat islam menganut keyakinan bahwa bumi itu bulat, namun penulis mengajak para pembaca untuk kembali mengkaji dan meneliti dengan seksama tentang bentuk bumi ini.. bulatkah atau datarkah? Penulis secara pribadi sangat membenarkan dan meyakini tentang kedataran bumi. Di bawah ini akan jelas semuanya dengan izin Allah Swt.

Bumi dihamparkan dan tidak bergerak, kecuali bila ada gempa dan tanah longsor. Keberadaan bumi yang terhampar dan tidak bergerak yang telah diinjak-injak oleh umat manusia dan makhluk-makhluk lain yang beraneka ragam itu tidak perlu lagi dipertentangkan perwujudannya, karena berita kebenaran mutlaknya berasal dari Allah, dan Allah sendiri yang telah menciptakan bumi ini telah menginformasikan kepada manusia :

– “Aku ciptakan bumi sebagai hamparan agar kalian bisa berjalan dengan tenang dan tidak berguncang di jalan-jalan lebar” (Nuh: 19-20).

– “Dan Allah jadikan bumi untukmu sebagai hamparan, agar kamu bisa berjalan di jalan-jalan yang lebar, dan dipancangkannya di bumi itu gunung menjadi pakunya agar kamu tidak berguncang” (Luqman: 10).

– “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan (bukan bulatan) dan gunung-gunung sebagai pakunya (agar tidak bergerak)” (al-Naba’: 6-7).

– “Dialah yang telah menjadikan bumi dengan mudah kamu jalani, maka berjalanlah ke segala penjurunya” (al-Mulk: 15).

– “Dan Kami jadikan di bumi itu gunung-gunung yang terpancang untuk mengamankan bumi, dan Kami jadikan pula di bumi itu lembah-lembah menjadi jalan agar mereka mendapat petunjuk” (al-Anbiyaa’: 31).

– “Dan Dia memancangkan gunung-gunung di muka bumi agar bumi itu tidak bergoncang dan Dia menjadikan sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk (untuk mencari rezeki)” (al-Nahl: 15).

– “Kami turunkan hujan dari langit dengan ukuran, lalu Kami simpan di bumi” (al Mu’minuun: 18).

– “Dan Allah meratakan bumi untuk makhluk-Nya” (al-Rahman: 10).

– “Tuhan yang telah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan (sebagai tempat tinggalmu) dan langit (benda-benda langit) diperlihara sebagai atap” (al-Baqarah: 22).

– “Dan Dialah yang telah menghamparkan bumi dan diciptakannya gunung-gunung di bumi beserta sungai-sungainya” (al-Ra’d: 3).

– “Tuhan menjadikan bumi jadi hamparanmu, dan dijadikan-Nya jalan-jalan di muka bumi itu untukmu, dan diturunkan-Nya dari langit air hujan, maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berbagai jenis-jenis tumbuh-tumbuhan” (Thaha: 53).

– “Allah yang menjadikan bumi untuk tempat tinggalmu dan dibentangkan-Nya jalan-jalan supaya kamu mendapat petunjuk” (al-Zukhruf: 10).

– “Dan Kami hamparkan bumi itu, Kami dirikan gunung-gunung untuk penenang dan Kami tumbuhkan tumbuhan yang indah dipandang” (Qaf: 7).

– “Dan Allah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan” (Nuh: 19).

Menghamparkan berarti membentangkan dalam keadaan datar atau dengan kata lain: “bumi datar”. Di bagian bumi mana saja kita berada, pasti akan kita dapati bentuknya yang berupa hamparan. Tepi bumi berada di tempat terbitnya matahari di sebelah timur dan di tempat tenggelamnya matahari di sebelah barat. Posisi ini telah diperlihatkan Allah kepada Nabi Saw. yang pernah bersabda: “Sungguh Allah telah memperlihatkan bumi kepadaku, lalu aku melihat timur dan baratnya“. Dan juga telah disaksikan pula oleh Saidina Zul-Qarnain “Akhirnya ia (Zul-Qarnain) sampai di tempat terbitnya matahari, dilihatnya matahari menerangi suatu kaum yang belum berpakaian” (al-Kahfi: 90). “Hingga apabila ia sampai ke tempat terbenamnya matahari, ia melihat matahari terbenam ke dalam laut hitam (warna airnya hitam). Di sana ia bertemu dengan satu umat (yang masih primitif). Kami ilhamkan: “hai Zul-Qarnain! kamu boleh menyiksa mereka atau engkau boleh berbuat baik kepada mereka” (al-Kahfi: 86).

Karena bumi ini bertepi dan berujung di timur dan di barat, di utara dan di selatan, maka pertanyaannya adalah: Mengapa seseorang yang hendak mengelilingi bumi dan mulai berjalan dari suatu tempat ia pasti akan kembali ke tempat itu lagi? bukankah itu bertanda bahwa bumi ini bulat? Jawaban kita adalah: Bahwasanya di setiap ujung dan tepi bumi itu mengandung kekuatan luar biasa yang mana membuat kita dapat menembus kembali tepi lainnya, persis sebagaimana permainan ular (snake) yang ada di HP-HP, dan Tuhan maha mampu dan kuasa atas segala-galanya !!

Bumi juga dihamparkan tidak berarti rata tanpa bejolan-bejolan. Gunung-gunung, bukit-bukit adalah merupakan benjolan yang ada di permukaan bumi. Kalau saja Allah menciptakan bumi bulat, tentunya Dia tidak akan memerintahkan berjalan ke seluruh penjurunya dan Rasulullah Saw. tidak akan bisa melihat timur dan barat.

Bulatan bumi yang berputar pada porosnya sekaligus mengelilingi matahari menurut teori yang selama ratusan tahun dianut oleh umat manusia, akan menyebabkan mereka tidak mengetahui timur dan baratnya sekaligus penjurunya, baik mereka berada di dalam maupun di permukaan bumi, karena bumi sedang dalam keadaan berputar terus.

Semua orang terpelajar mengetahui sifat air yang datar. Bila ada daerah yang rendah, maka ia akan mengalir ke daerah yang rendah itu. Bila diamati dengan teliti, maka air lautan akan mengalir ke tempat yang lebih rendah. Jika bumi bulat bisa dipastikan air lautan akan habis sejak dicipta pada awal ciptaan-Nya ke daerah bebas di alam tanpa batas, sedang air hujan dari langit tidak akan jatuh tepat pada permukaan bumi karena ia bulat.

Nabi Adam yang diperintahkan turun dari surga sebagai khalifah di bumi, bila buminya bulat dan berputar pada porosnya, pasti kaki Nabi Adam akan dihantam oleh benjolan yang ada di permukaannya dan pasti beliau akan meminta kepada Allah agar buminya dihamparkan dan tidak bergerak kemana-mana untuk memudahkan ia turun dari surga ke permukaan bumi dan beliau orang yang pertama mendiami bumi ini. Ia tidak pernah mengatakan bahwa bumi bulat dan berputar pada porosnya, demikian juga para nabi-nabi terdahulu termasuk Rasulullah Saw. tidak pernah mengatakan bumi bulat dan berputar pada porosnya.

Di hamparan bumi terdapat Ka’bah atau Baitullah. Baitullah adalah Rumah Allah. Allah yang menciptakan bumi ini, tidak akan menjadikan rumah tempat ibadah ini diputar-putar sekaligus diajak berkeliling memutari matahari ciptaan-Nya yang akan mengubah posisinya yang ditetapkan tegak lurus dengan Baitul-Ma’mur yang juga merupakan tempat ibadah bagi para malaikat.

Allah berfirman: “Dan bumi Allah itu luas” (al-Zumar: 10). Diluaskan jarak pendatarannya oleh Allah, sehingga tidak seorangpun kuasa untuk menjelajahi ke seluruh daerahnya yang terpencil di beberapa sudut di bumi yang dihamparkan itu, kecuali dengan ilmu yang diberikan oleh Allah kepada penjelajah tersebut.

Di dalam kitab suci-Nya Allah berulang kali menyebutkan masalah hamparan bumi ini, agar kita semua memikirkan dan mengadakan penelitian tentang keajaiban-keajaiban di hamparan bumi Allah ini yang hasilnya bisa disampaikan kepada umat.

Coba perhatikan dengan seksama di permukaan bumi ini. Ia tempat berdiam bagi segala makhluk yang hidup, sedang di dalamnya merupakan tempat peristirahatan bagi yang telah meninggal dunia, disamping beberapa macam hasil tambang yang ada di dalamnya.

Allah berfirman: “Dan bumi Kami hamparkan. Maka sebaik-baik yang menghamparkan adalah Kami” (al-Dzariyat: 48). Dengan dihamparkan bumi milik Allah ini, maka manusia dan makhluk lainnya dapat mendiaminya, karena manusia dan hewan sangat membutuhkan tempat untuk menetap dan membutuhkan makanan. Dengan demikian maka dapat dipastikan bahwa Allah menjadikan seluruh daratan bumi sebagai hamparan agar mudah ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan untuk makanan yang sangat dibutuhkan oleh manusia dan makhluk lainnya. Selain itu juga sangat dibutuhkan untuk berkumpulnya manusia yang hidup dan yang mati. “Bukankah Kami menjadikan bumi tempat berkumpul bagi semua orang-orang yang masih hidup dan orang-orang yang sudah mati” (al-Mursalat: 25-26).

Hamparan bumi dapat juga dipergunakan untuk jalan-jalan, termasuk juga jalan kereta api yang tidak mungkin bisa berjalan menanjak ke atas ataupun menukik ke bawah. Juga sebagai tempat menetap yang ideal agar dapat melestarikan keturunan baik oleh manusia ataupun bagi hewan plus tumbuh-tumbuhan yang sangat diperlukan manusia dan makhluk lainnya. Disamping itu semua, banyak juga manfaat yang dapat dinikmati oleh manusia dari hamparan bumi ini. “Dan Kami ciptakan besi yang mempunyai kekuatan yang sangat hebat dan banyak manfaatnya bagi manusia” (al-Hadid: 25). “Dan gunung-gunung dipancangkan” (al-Nazi’at: 32). “Dan mereka memahat gunung-gunung menjadi rumah, untuk didiami dengan aman” (al-Hijr: 82).

Imam Ghazali berkata: “Seandainya bumi ini bergetar dan bergerak, maka semua manusia tidak akan dapat mengerjakan pekerjaan dengan teliti, baik yang menyangkut tumbuh-tumbuhan maupun industri. Perhatikan hal itu pada gempa-gempa yang sering kali menimpa manusia dan memberikan perasaan takut bagi mereka agar bertaqwa kepada Allah”.

Bagi para malaikat pemikul arsyi, kedua kaki mereka tertancap di bumi yang paling bawah. Apakah kaki-kaki mereka diputar-putar dan diajak berkeliling memutari matahari tanpa henti hingga kaki-kaki mereka terpelintir? Coba pikirkan dengan pikiran sehat.

Rasulullah Saw. mengatakan: “Keliling bumi sejauh 2000 tahun perjalanan“. Bila kita ingin mengelilingi bumi pada pinggir-pinggir pantai baik pinggir-pinggir benua maupun pinggir-pinggir pulau, maka kita harus mempersiapkan umur selama 2000 tahun. Sedang arti perjalanan di dalam sabda itu adalah menggunakan kendaraan. Kendaraan yang paling diandalkan pada waktu Nabi Saw. adalah kuda yang larinya tercepat. Andaikata kita berjalan kaki tentu akan memerlukan waktu lebih dari 2000 tahun perjalanan.

Allah berfirman: “Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit-langit dan bumi dahulunya adalah satu kesatuan, kemudian keduanya Kami pisahkan” (al-Anbiya’: 30).

Allah juga berfirman: “Dan sesudah itu Dia menghamparkan bumi” (al-Nazi’at: 30). Setelah 7 langit dan bumi berlapis 7 dipisahkan, selanjutnya bumi-Nya dihamparkan. Terlihat oleh Allah satu goncangan keras di bumi yang telah dihamparkan. Maka Allah menciptakan gunung-gunung sebagai paku agar bumi menjadi tenang dan tidak bergerak lagi. Ilmu pengetahuan menetapkan bahwa paku-paku gunung-gunung seperti akar-akar yang menghunjam jauh ke dalam perut bumi. “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasaknya” (al-Naba’: 6-7).

Bukit Qaf yang dicipta oleh Allah dari jamrud yang hijau (sehingga warnanya berpengaruh terhadap warna biru langit dunia yang sering dan selalu kita saksikan) adalah bukit yang mengelilingi ke segenap penjuru pada urat bumi agar bumi tidak bergerak bergoncang dan ia dijaga oleh satu malaikat yang besar, kekar dan kuat.

Pada suatu hari Saidina Iskandar Zul-Qarnain naik ke atas bukit Qaf dan bertanya: “Hai Jabal Qaaf, di bawahmu ada sejumlah bukit-bukit kecil, coba ceritakan kepadaku kekuasaan Allah yang demikian itu”, jawab bukit Qaaf: “Di balik saya ada bumi yang berjarak 500 tahun perjalanan ditambah pula oleh Allah yang memiliki kekuasaan yang sangat besar yakni 500 buah bukit yang dijadikan dari air yang dibekukan, bukan es atau salju. Dengan air yang dibekukan dimaksudkan sebagai daya tahan terhadap lapisan-lapisan bumi agar tidak habis hancur terbakar oleh kedahsyatan ganasnya api neraka yang ada di bawah lapisan bumi yang terbawah”. “Dan dipancangkan-Nya di bumi itu gunung menjadi pasaknya agar kamu tidak berguncang” (Luqman: 10). “Dan bersegeralah untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu serta mendapatkan surga seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa” (Ali Imran: 133).

Seluas langit dan bumi memberikan arti dua kali lipat. Langit berpasangan dengan bumi, matahari dengan bulan, siang dengan malam. “Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu berpasangan” (Yasin: 36). Kita dipastikan mengerti maksud berpasangan itu bagaimana. Tentunya luas, panjang, lebar dan besarnya adalah sama. Kalau tidak sama, orang jawa menyebutnya “Gitang” (pincang). “Sesungguhnya Allah telah menciptakan tujuh langit dan bumi seperti itu pula” (al-Thalaq: 12).

Sewaktu Saidina Abdullah bin Salam bertanya kepada Nabi Saw.: “Dengan apa bumi ini bisa tenang?”, jawab Nabi Saw.: “Dengan beberapa gunung“, pertanyaan berikutnya: “Dengan apa gunung-gunung itu dikokohkan?”, jawab Nabi Saw.: “Dengan gunung Qaf yang dibuat dari zamrud hijau dan birunya langit“, setelah itu ditanya lagi: “Berapa jarak tingginya dari bumi ke langit dunia?”, jawab Nabi Saw.: “500 tahun perjalanan“. Pertanyaan selanjutnya tentang jarak antara perjalanan kiri dan kanannya (utara-selatan) dari titik tengah? jawab Nabi Saw.: “200 tahun perjalanan” dan ketika ditanyakan tentang penghuni bumi yang berlapis tujuh itu. Nabi Saw. menyebutkan: “Penghuni lapisan ketujuh adalah para malaikat, penghuni lapisan keenam adalah Iblis beserta bala tentaranya, penghuni lapisan kelima adalah setan, penghuni lapisan keempat adalah ular, penghuni lapisan ketiga adalah kalajengking, penghuni lapisan kedua adalah jin, dan penghuni lapisan pertama adalah manusia“. Allah berfirman: “Dan di bumi terdapat bagian-bagian yang mendampingi” (al-Ra’d: 4).

Berkaitan dengan ayat ini, Nabi Saw. selanjutnya menerangkan bahwa di belakang gunung Qaf ada +70 bumi dari misik (kasturi), +70 bumi dari emas, +70 bumi dari besi, +70 bumi dari Anbar, +70 bumi dari kapur. Di belakang ini semua terdapat alam malaikat. Tidak ada satu manusia-pun yang mengetahui jumlah para malaikat ini kecuali Allah, dan mereka bertasbih dengan kalimat: “La Ilaha Illallah Muhammadun Rasulullah”.

Dalam masalah bumi ini, Saidnuna Ibnu Abbas Ra. mengatakan: “Bahwasanya tiap-tiap bumi, sebagian dari padanya seperti bumi kita ini dan di dalamnya terdapat alam seperti alam kita”.

Nabi Saw. bersabda: “Hai Aisyah! di alam yang tidak nampak ini, terdapat hujan, mendung, matahari dan bulan. Tidak ada yang mengetahui kecuali kekasih Allah dan orang-orang yang baik“.

Hikmah yang dapat diambil dari tanya-jawab antara Nabi Saw. dengan Saidina Abdullah bin Salam, seorang yahudi yang telah masuk Islam berkat keterangan-keterangan yang dijelaskan oleh Nabi Saw. Di antaranya dia membenarkan jawaban Nabi Saw. atas pertanyaannya antara lain: “Jarak tinggi bumi ke langit dunia adalah 500 tahun perjalanan dan jarak perjalanan kiri dan kanannya sejauh 200 tahun perjalanan dari titik bumi“.

Dari angka-angka ini dapat dihitung luasnya bumi dengan menggunakan rumus phitagoras sehingga dapat diperoleh luas bumi: panjang x lebar = 75.293.183,232 x 20.390.400 = 1.535.258.123.370.000 km^2.

Nabi Saw. bersabda: “Titik tengah bumi adalah Ka’bah“. Dihitung dari Ka’bah yang merupakan titik pusatnya bumi yang posisinya tegak lurus dengan Baitul-Ma’mur, lalu dari Ka’bah ditarik garis tegak lurus (vertikal) ke titik langit dunia di Baitul-Izzah, kemudian dari titik Ka’bah ditarik garis datar (horizontal) ke arah utara dan selatan bumi.

Hitungan di atas dilihat dari sudut pandang apabila hamparan bumi berbentuk persegi panjang dengan perkiraan kecepatan maksimum yang dapat ditempuh oleh manusia yang sedang berjalan adalah 6 km/jam. Ini berarti besar kecilnya perhitungan luas bumi bergantung pada kecepatan perjalanan yang dapat ditempuh oleh manusia. Namun kenyataannya hamparan bumi tidaklah berbentuk persegi panjang. Demikian juga apabila bumi berbentuk bulat, ia dapat dihitung pula secara matematis, sedang haqiqinya hamparan bumi tidaklah berbentuk persegi panjang apalagi bulat.

Nabi Saw. bersabda: “Keliling bumi 2000 tahun perjalanan” Sabda ini tidak bisa diperkilometerkan dengan pedoman hitungan seperti di atas, yang pada akhirnya merupakan bentuk teori semata, padahal haqiqinya bumi dihamparkan.

Keadaan bumi dihamparkan bukanlah kiasan kata, ia adalah haqiqi yang mutlak kebenarannya.

Al-Qur’an telah memperjelas dengan sejelas-jelasnya tentang dihamparkannya bumi secara haqiqi dengan ayat-ayat yang difirmankan langsung dari Allah yang menciptakannya.

Sebagian dari ayat-ayat itu telah ditulis di atas dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti oleh siapapun dari hamba-hamba-Nya yang dicipta setelah Allah menciptakan langit dan bumi, karena sang hamba tidak dihadirkan pada waktu menciptakan langit dan bumi yang proses penciptaannya berjalan selama enam hari dari hari Ahad hingga hari Jum’at, maka teori yang dikemukakan akan hanya sekedar teori saja.

Walaupun Allah lebih dari mampu untuk menciptakan langit dan bumi dalam waktu sekejap (dengan Kun-Nya), namun Allah tidak hendak berbuat demikian dengan tujuan agar manusia ciptaan-Nya itu dapat mengambil hikmah dari proses penciptaan yang berjalan hanya dalam enam hari itu. “Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas arsyi” (al-Furqan: 59).

Enam hari mulai dari Ahad hingga hari Jum’at. Hari-hari ini diperuntukkan oleh Allah pada hari-hari di dunia bagi manusia. Rincian dari hari-hari itu :

– “Maka Dia meneruskan menciptakan langit yang masih berupa dukhan, lalu diperintahkannya kepadanya dan kepada bumi: Datanglah kamu berdua memenuhi perintah-Ku dengan senang hati atau terpaksa, maka keduanya menjawab: ‘Kami datang dengan rela” (Fushshilat: 11).

Dukhan ini bergelombang dan bergeraknya tumpuk tindih air yang ada di bawah arsyi karena takut kepada Allah sampai hari kiamat. Dukhan ini menimbulkan kabut, buih dan ombak dan tentunya banyak unsur- unsur yang dijadikan bahan-bahan bagi semua ciptaan-Nya yang jumlahnya tidak mungkin bisa diketahui oleh manusia kecuali hanya Allah Sendiri dengan ke-Esaan-Nya.

– Sifat kabut yang dingin dan beku dijadikan langit-langit dalam dua hari, yakni hari Kamis hingga Jum’at. “Maka Dia ciptakan tujuh langit dalam dua hari” (Fushshilat: 12).

– Buihnya dijadikan bumi dalam dua hari, yakni hari Ahad hingga Senin. “Ketahuilah! Pantaskah kamu menyangkal kepada Yang menciptakan bumi dalam dua hari” (Fushshilat: 9).

– Ombaknya dijadikan gunung-gunung, bukit-bukit dan berbagai makanan bagi makhluk-makhluk ciptaan-Nya. “Dan Dia menciptakan gunung (untuk mengokohkan bumi) dan diberinya keberkatan di bumi itu, serta ditentukannya makanan penghuninya dalam empat hari” (Fushshilat: 10).

Dalam ayat tersebut disebutkan empat hari, yakni dua hari dari hari Ahad sampai Senin untuk bumi sebagaimana disebutkan di ayat sebelumnya (sambungan) yang kemudian dilanjutkan pada hari Selasa sampai dengan hari Rabu untuk gunung-gunung, bukit-bukit dan makanan.

Allah berfirman: “Maka bertanyalah kepada ahli dzikir jika kamu tidak mengetahui” (al-Nahl: 43). Allah juga berfirman: “Maka tanyakanlah kepada yang lebih mengetahui tentang Dia” (al-Furqan: 59). Oleh karena itu bila anda kurang yakin dengan kedataran bumi, maka silahkan bertanya kepada ahli dzikir dan orang-orang yang lebih tahu tentang Allah, ilmu-ilmu-Nya dan ciptaan-ciptaan-Nya. Kalau belum yakin juga, tanyakan saja langsung kepada yang menciptakan langit dan bumi ini !!

Sumber:

-http://adiraweb.com/ading/bumi.php

-Olahan kajian dan analisis Syeikh Aziz Sukarnawadi http://www.aziznawadi.com/bumidatar.html

Posted on October 13, 2007, in Dunia Yang Berkait, Kajian. Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. Pemaparannya bagus. tapi banyak kejanggalnnya serta dalam memahami kata “menghamparkan” dalam alquran juga kurang tepat menurut sy.

  2. betul ke bumi sebuah hamparan semata2…? flat…?

    sejauh mana insan/manusia boleh pergi..yakni keseluruh universe lah..ada kajian terkini mendapat cahaya dari bintang-bintang yang jauh tidak terpesong..ini membuktikan universe (bumi) itu adalah ‘flat’

  3. Kajian ini sama sekali tidak ilmiah dan tidak mencerminkan pada kebenaran. Salah total dalam memahami suatu pesan yang disampaikan Kitab Suci. Ini berbahaya, karena membawa-bawa Kitab Suci lalu membenturkannya dengan temuan sains, seakan-akan pesan Kitab Suci tidak sesuai dengan sains. Yang tercipta kemudian adalah, orang akan mempersepsikan bahwa pesan agama tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan yang menyebabkan orang-orang yang giat belajar ilmu pengetahuan menyepelehkan agama dan orang-orang yang fanatik terhadap agama akan malas belajar ilmu pengetahuan. Padahal, baik agama maupun ilmu pengetahuan yang lahir dari akal manusia, sama-sama datangnya dari Tuhan.

    Kata hamparan yang sering dikutip dalam tulisan ini seakan-akan sinonim dengan kata datar dan berlawanan dengan kata bulat atau bundar. Padahal, kata hamparan dalam bebarapa ayat dalam Al-Qur’an mengenai Bumi harusnya dipahami sebagai “disediakan”, apakah kata disediakan berlawanan dengan bulat dan bundar?

    Jika saja bumi ini tidak berbentuk bulat dan berputar pada porosnya, lalau bagaimana akan terjadi siang dan malam? Padahal hanya karena bumi berbentuk bulat dan berputar pada porosnya itulah maka akan terjadi siang dan malam. Sudah begitu banyak objek yang telah mengelilingi Bumi dan membuktikan bahwa bumi memang bulat.

    Adapun bahwa dimanapun kita berada akan menyaksikan bahwa bumi itu datar, itu karena Bumi ini terlalu besar untuk ukuran kita sehingga kita melihatnya datar. Seekor kuman kecil juga akan mengira bahwa bola yang di tempatinya itu datar hanya karena ia tak mampu melihat bahwa bola itu bundar.

    Saya heran, dijaman modern ini kok masih ada pemikiran primitif lalu dengan enteng membawa-bawa dan membenturkan pesan agama dengan ilmu pengetahuan. Tulisan ini hanya menunjukan kedangkalan pengetahuan penulisnya.

    Pesan saya:
    Sebaiknya jangan membawa-bawa agama ke rana sains jika anda tidak punya ilmu yang memadai dalam hal tersebut, karena hanya akan menyesatkan dan membingungkan masyarakat.

  4. Bunyamin Abdullah

    salam alaykum,

    sebelum itu,sy ingt mengingatkan,fitrah Islam itu sendiri ialah sains,semua perkara didunia ini logik dan tidak ada yg tidak logik.jika ditanya perkara ghaib,adakah logik?sangat logik kerana ia adalah fitrah tuhan,tuhan ini bermakna berkuasa atas sesuatu,

    berkenaan dengan artikel ini,logik TETAPI apabila sudah dibuktikan kebenarannya maka yang dulunya dikatakan logik x lagi logik melalui apa?penemuan2 sains,

    maaf, amatlah memalukan jika persoalan artikel ini dikatakan sangat sangat kuno,tetapi memang kuno.adakah kita bercakap dengan orang bukan Islam yang tidak menggunakan sains dan lebih mundur pengetahuan merbanding muslim? sungguh, islam itu tidak jumud,

    janganlah ditafsirkan ayat suci Quran dan hadis itu dengan sewenang2nya, ketahuilah,Quran itu sangat suci,jangan mengotorinya dengan pemikiran tertutup,

    sebagai contoh, gempa bumi di Padang,Indonesia dan tempat sekitarnya,saya yakin semua orang mengetahui akibatnya. kaji lah masa berlaku(kiraan 24 jam) dan ayat Quran, sungguh, Allah itu suci,jika ayat itu menunjukkan kehancuran firaun,adakah waktu yang sama di Padang terdapatnya firaun?

    tidak~
    jangan menjadi orang sesat dan menyesatkan orang lain,saya berani bercakap jika perkara ini dikupas melalui fizik, dukhan? ternyata fizik?adakan islam itu x sains? bahkan islam itu a’lamiyyah,

    salam alaykum,semoga kita berada dalam jalan yang lurus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: